Batik Unik Indigo Ramah Lingkungan

Posted: September 6, 2011 in Me

Penggunaan warna-warna alami untuk batik sudah dilakukan oleh pembatik Jawa sejak dahulu. Mereka mengambil zat warna dari aneka tumbuhan, salah satunya tanaman indigofera tinctoria, atau lebih dikenal dengan sebutan tanaman nila.

Nila setitik rusak susu sebelanga

Cara inilah yang kembali dilakukan Mayasari Serkarlaranti atau akrab disapa Nita. Ia mulai menekuni pemanfaatan tanaman nila ini sejak 2006. Semuanya ini berawal dari penelitian sang ibu yang kebetulan adalah sarjana pertanian.

“Setelah dicoba-coba akhirnya didapatkan formula untuk membuat pasta batik dari indigo dan diterapkan hingga sekarang dan hasilnya sangat memuaskan. Mulai dari 2009 kita berani memamerkan ke masyarakat umum. Kita berharap tamanan ini bisa dipakai sebagai salah satu pewarnaan batik,” kata Nita.

Menurutnya, indigofera memiliki warna primer dari seluruh alam. Jadi warna alam lainnya, seperti dari kulit kayu mahoni, kalau sudah dicampur dengan daun indigo akan memiliki komposisi warna yang unik.

Nita mengakui, pembuatan warna alami dari indigo ini memerlukan waktu yang lama karena daun itu harus melalui proses fermentasi selama 24 jam, setelah itu dicampur dengan air kapur dan dikeringkan sehingga bisa didapat warna biru yang lebih pekat. Sementara bahan pewarna lain, seperti kulit kayu dan daun, hanya perlu direbus untuk diambil sarinya.

“Hasilnya warna indigo lebih mudah melekat pada kain karena sudah dicampur dengan gula Jawa. Ada pribahasa karena nila setitik, rusak susu sebelanga, jadi karena pekatnya warna nila ini bisa memengaruhi warna lain.”

Ia menambahkan, untuk satu kain dibutuhkan 10 kilogram daun nila basah. Awalnya, ia kesulitan mengumpulkan daun nila karena hanya mengandalkan pencarian di pinggir pantai, atau sekitar lapangan bola. Namun kini Nita mulai membudidayakan tanaman itu.

Batik ramah lingkungan

Warna biru di batik indigo bisa berbeda-beda tergantung pada materi kain batiknya. Selain itu, spesies tanaman tersebut memiliki varian yang berbeda-beda, sehingga nuansa warna yang dihasilkan pun ikut berbeda. Faktor air tanah juga bisa berdampak pada pewarna alami ini.

Motif batik rancangannya masih didasarkan pada gaya klasik, seperti lereng, parang, kawung, sekar jagat hingga lung-lungan. Namun motif ini kemudian diaplikasi hingga terlihat lebih moderen dan cocok untuk kemeja dan serta busana formal wanita. Batik-batik ini dijual di Galeri Batik Jawa (GBJ) miliknya di Yogyakarta. Nita juga memiliki toko di Jakarta, Bekasi, Bandung dan Semarang.

Ia menjamin batik tulis indigo ini tidak luntur dan pudar warnanya sehingga bisa disimpan untuk waktu yang lama. Sementara untuk membilasnya cukup dengan menggunakan deterjen yang tidak terlalu kuat sodanya. Bisa juga menggunakan biji tanaman lerak yang pastinya tidak mengandung bahan kimia.

Harga batik tulis indigo ini tidak jauh berbeda dengan batik pada umumnya, mulai dari 245 ribu rupiah hingga 1,2 juta rupiah. Penentuan harganya sangat bergantung pada jenis kain yang digunakan serta motif batiknya itu sendiri. “Semakin sulit dikerjakan, otomatis waktu mengerjakannya lebih lama. Ini yang menyebabkan harga batiknya bisa lebih murah atau mahal karena proses pembuatannya,” tambah Nita.

Satu hal yang membanggakan dari batik indigo ini adalah konsepnya yang ramah lingkungan karena tidak mengggunakan warna-warna kimia. “Orang mulai berpikir memakai produk ramah lingkungan, selain aman untuk lingkungan juga untuk badan, apalagi ini kan melekat di kulit. Jadi mungkin yang punya alergi kulit dengan warna kimia, bisa mencoba batik yang menggunakan warna alami,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s