Saat Keindahan dan Kedamaian Menyatu di Kampoeng Awan

Posted: Agustus 1, 2011 in Me

Jenuh dengan kemacetan dan polusi Jakarta? Kenapa tidak mencoba berkemah di Kampoeng Awan yang ada di Desa Sinargalih. Kawasan ini terletak di atas Mega Mendung, dari sini Anda dalam melihat seluruh kota Bogor, Ciawi, jalan raya Puncak, Gunung Salak, Gunung Gede-Prangrango.

Menggapai awan

Lokasi wisata ini memiliki konsep wisata terbuka, jadi jangan harap menemukan tempat peristirahatan mewah, seperti vila di sini. Dari luas yang mencapai 3 hektar, hanya sekitar 2 persen yang digunakan untuk lokasi bangunan. Anda bisa kembali ke alam bebas dengan udara yang sejuk dan dingin khas daerah Mega Mendung. Di tempat ini pengunjung seolah-olah bisa menggapai awan, sehingga disebut Kampoeng Awan.

Pemilik dan pendiri Kampoeng Awan, Yusnah Chairani mengatakan, ide membangun camping ground ini muncul pada 2001. Ide ini diwujudkan dengan membeli lahan sekitar 3000 meter dan langsung diubah menjadi kawasan hutan.

“Pada awalnya lokasi di situ benar-benar kritis. Bisa dikatakan hanya tumbuh singkong, talas dan pisang. Berangkat dari itu, mulailah kami mencicil menanam pohon setiap minggu lima pohon. Akhirnya tetangga pemilik lahan menjual kepada kami dan sekarang totalnya menjadi 3,5 hektar,” papar Yusnah.

Ia menambahkan, pada 2008 ada usulan dari tamu-tamu yang berkunjung agar kawasan itu dijadikan usaha camping ground. Yusnah dan suami kemudian sibuk menyiapkan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan konsumen. Karena konsepnya kembali ke alam, Yusnah tidak menyediakan vila atau cottage. Ia hanya menyediakan penginapan dalam bentuk tenda. Tendanya cukup nyaman lengkap dengan dengan matras, sleeping bag dan bantal.

Janji tak merusak lingkungan

Konsumen yang datang ke Kampoeng Awan disodori perjanjian untuk tidak merusak lingkungan. Pengelola juga tidak menyediakan alat makan sekali buang dan air minum dalam kemasan. Sebelum pulang para tamu diberikan tanaman untuk ditanam. Hingga kini sudah ada 100 jenis tanaman di sana, seperti damar, meranti, mahoni, beberapa jenis cemara hingga pohon jati Belanda.

“Untuk menjaga longsor kami juga menggunakan akar wangi. Sejenis tanaman seperti pohon serai yang akarnya bisa mencapai enam meter. Sehingga benar-benar bisa menahan tanah. Pohon-pohon ini juga bisa melindungi mata air yang ada di lokasi,” imbuhnya.

Menurut Yusnah, pihaknya juga dipercaya untuk merawat pohon-pohon milik Perhutani seluas 30 hektar yang bisa digunakan untuk kegiatan outbond. Anda bisa trekking menyusuri jalan-jalan pedesaan untuk melihat proses pembuatan jamur tiram.

Selain itu, Anda juga bisa berkunjung ke melihat kebun organik di daerah Cipendawa yang dikelola oleh Kelompok Tani Mega Mendung. Di sini para pengunjung bisa memperoleh informasi seputar pertanian sayur dan buah-buahan organik. Tanaman segar ini bisa dibeli sebagai oleh-oleh.

Kata Yusnah, camping ground bisa menampung hingga 300 orang. Rata-rata setiap tamu menginap selama lima hari. Anda tidak perlu bingung mencari lokasinya karena hanya 45 menit dari pintu keluar tol Ciawi.

Untuk merawat fasilitas yang ada, Yusnah mempekerjakan masyarakat sekitar. “Kita tidak memakai pekerja profesional dari Jakarta. Kita mengajak masyarakat lokal, jadi dari tenaga bangunan sampai kebersihan dan tenaga operasional di lokasi, kami mengkaryakan warga setempat.”

Jika setiap hari Anda diselimuti kabut asap dari kenalpot kendaraan dan pabrik, kini saat menikmati kabut dingin yang sewaktu-waktu menyelimuti daerah ini. Silahkan mencoba.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s