Boneka Cantik dari Pelepah Pisang

Posted: Agustus 1, 2011 in Me

Pelepah pisang mungkin masuk kategori barang yang tidak ada gunanya. Namun bagi Tien Soebandiri limbah yang satu ini bisa membuatnya terkenal hingga Spanyol, Mesir, Italia dan Jepang.

Perempuan berusia 66 tahun ini mengubah pelepah pisang menjadi boneka dan aneka kerajinan tangan lainnya, seperti karangan bunga dan bros. Setiap pulang dari luar negeri suami ibu Tien selalu membawa oleh-oleh, seperti boneka. Dari situlah muncul ide membuat boneka pelepah pisang yang ringan dan mudah dibawa oleh wisatawan.

Awalnya, ia menggunakan kulit jagung, namun beralih ke pelepah pisang karena bahan ini lebih lentur sehingga mudah dibentuk. Tien mendapat bahan pelepah pisang dari wilayah Yogyakarta dan Bojonegoro. Ia tidak membutuhkan banyak pelepah pisang karena boneka yang dibuatnya berukuran kecil.

“Kita tidak butuh banyak, jadi kalaupun tidak ada supplier, tapi punya pohon pisang bisa kita tebang sendiri. Lain kalau misalnya untuk dibuat kursi yang membutuhkan banyak pelepah pisang,” katanya.

Gedebok pisang itu dikeringkan dan dibelah jadi dua, sehingga bagian dalam dan luarnya bisa digunakan. Untuk boneka besar yang lebih dari 20 cm kerangkanya dibuat dari kawat. Setelah dibentuk sesuai dengan keinginan, kerangka dibalut dengan kertas koran dan dilem. Selanjutnya dilapisi dengan pelepah pisang yang sudah diproses. Sementara baju bonekanya bisa dibuat dari kulit jagung.

Menurut Tien, semua jenis pelepah bisa digunakan, namun yang paling cocok adalah pelepah pisang klutuk karena memiliki warna yang alami kecoklatan. Ia juga lebih suka menggunakan pelepah yang sudah kering di pohon karena bisa ditipiskan dan dipotong kecil-kecil.

Sebuah boneka kecil ukuran 20 senti dihargainya antara 50 hingga 70 ribu rupiah. Sementara yang lebih besar bisa mencapai 100 hingga 150 ribu rupiah. Menurut Tien, order paling ramai jika ada pameran dan musim pernikahan karena banyak pesanan boneka untuk dijadikan suvenir. Sebulannya ia bisa mendapat keuntungan hingga 5 juta rupiah.

Tien mengaku tidak menemui kendala dalam memasarkan produknya. Ia juga tidak mau ngoyo dalam membuat kerajinan tangan. Kalau ada pesanan baru buat, kalau tidak ya santai saja, katanya sambil tertawa.

Tien tidak memiliki karyawan. Setiap mengerjakan pesanan ia dibantu kelompok ibu-ibu yang ada di sekitar rumahnya Jalan Ciliwung 15 Surabaya. Selain itu, ia juga merekrut anggota Asosiasi Bunga Kering dan Bunga Buatan Surabaya.

“Kita berkelompok, misalnya 10 orang. Bisa saja orang-orang itu kemudian berdiri sendiri atau pindah, ganti lagi orang baru. Kalau ada pesanan banyak kita kumpulkan kembali. Tapi ada standar tertentu sehingga semua produknya seragam. Karena kalau tidak sama, kita kirim nanti akan dikembalikan lagi,” papar Tien.

Usaha yang sudah dirintis sejak 1996 ini sudah menghasilkan berbagai macam jenis boneka unik, seperti petani yang meniup suling, gadis desa berkimono, lelaki yang menunggang kuda lumping, dan masih banyak lagi. Semua boneka ini terpajang rapih di ruang tamu rumahnya.

Menurut Tien, boneka dengan bentuk tradisional ini lebih diminati turis asing ketimbangan boneka yang bentuknya kebarat-baratan. Produksi rumahan ini dititipkannya ke sejumlah teman yang memiliki perusahaan besar untuk dijual ke luar negeri.

Tien juga rajin memberi pelatihan untuk anggota Asosiasi Bunga Kering dan Bunga Buatan yang ingin mengikuti jejaknya. Ia juga sering diudang hingga ke Malang dan Sidoarjo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s