Vespa Dari Kaleng Bekas

Posted: Mei 24, 2011 in Me

Pernahkah Anda melihat miniatur vespa, patung Tugu Pancoran, patung Tugu Tani, motor gede Harley Davidson, mobil hingga pesawat yang dibuat dari kaleng bekas? Itu semua hasil karya Gifson Harianja. Dari kegiatannya ini, Gifson bisa meraup keuntungan sekitar 5 juta rupiah per bulan.

Ide ini muncul saat Gifson melihat banyak tumpukan kaleng bekas di warung dekat rumahnya. Iseng-iseng kaleng itu dibentuk menjadi patung pemulung dan ternyata ada yang nawar, kata Gifson.

“Patung ini butuh 15 kaleng bekas, jadi tinggi sekitar setengah meter. Kalengnya tidak dilebur jadi masih utuh, kemudian saya lipat-lipat,” tambahnya.

Bahan utamanya adalah kaleng-kaleng bekas minuman ringan, soft drink. Sementara kaleng bekas susu atau makanan masih terlalu keras. Dengan peralatan sederhana, gunting dan tang, satu per satu kaleng dirangkai menjadi bentuk yang diinginkan.
Kaleng-kaleng bekas ini didapat Gifson dari seorang teman yang memiliki cafe. Jika masih kurang, ia membeli langsung dari pemulung. Setiap hari Gifson mampu mengumpulkan tiga kilogram kaleng.

Kaleng-kaleng itu dibuat jadi lempengan untuk kemudian dicuci dan dibersihkan. Lempengan-lempengan itu kemudian dipotong sesuai dengan pola yang ada. Potongan-potongan itu kemudian ditempel dengan lem, ditambah pernak-pernik aksesoris, jadilah miniatur motor.

“Kaleng-kaleng itu tidak dicat lagi. Kalau dicat jadi hilang daur ulangnya. Jadi asli kalengnya. Kalengnya juga tidak dibalik, jadi mereknya kelihatan. Kalau bagian dalamnya kan warna putih saja, tidak kelihatan bahwa ini produk daur ulang.”

Gifson mulai menekuni bisnisnya ini sejak 2009. Semuanya karyanya ini dibuat sendiri, tanpa bantuan karyawan lain. “Paling istri saya bantuin motong-motong kaleng,” katanya sambil tertawa.

Rata-rata ia membutuhkan satu hari untuk menyelesaikan miniatur-miniatur itu. Total ada 30 jenis miniatur yang sudah dikerjakannya. Sebagian besar pembeli sangat menyukai miniatur vespa.

Hasil karyanya ini dijual antara 30 ribu hingga 300 ribu per unit. Makin rumit dan besar bentuknya, makin mahal juga harganya. Dalam sebulan, Gifson mampu menjual 40 miniatur.

Pria yang tinggal di Pondok Gede, Bekasi ini mengaku tidak menemui kendala dalam menjalankan bisnisnya. Namun dia sempat nyaris buta saat bekerja.

“Saya pakai lem Korea dan kena mata, hampir buta. Lem itu menempel di kaleng, karena kalengnya lentur lem itu menyiprat ke mata. Tapi sampai sekarang saya tidak pernah pakai kaca mata pelindung saat kerja,” katanya lagi.

Selain mendapatkan keuntungan, Gifson mengaku senang karena dapat berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan. Karena tidak semua pabrik dapat mengolah kembali kaleng-kaleng bekas. Itulah sebabnya patung pemulung sangat berarti baginya. “Patung pemulung ini menandakan kebersihan dan cinta lingkungan,” tegasnya.

Ia pun optimistis akan masa depan usahanya. Pasalnya, penjual miniatur lain biasanya menggunakan kayu atau plastik. Sementara, perajin yang menggunakan kaleng bekas sebagai bahan baku masih sedikit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s