Asia, Band Para Dewa Progresif Rock

Posted: Februari 18, 2011 in music

Asia adalah band rock yang terbentuk awal 1981. Banyak yang menyebut band ini sebagai supergrup karena personilnya adalah jebolan band-band progresif rock papan atas seperti Yes, King Crimson, Emerson, Lake & Palmer (ELP), Uriah Heep, UK, Roxy Music Wishbone Ash dan The Buggles.

Early Years

Asia diawali dengan bubarnya dua band terkenal Inggris Yes dan ELP. Adalah John Kalodener, A&R dari Geffen Record, yang pertama kali mempertemukan gitaris Yes, Steve Howe dengan pemain John Wetton, pemain bas King Crimson. Setelah itu bergabunglah Carl Palmer drummer ELP. Howe kemudian mengajak rekannya di Yes Geoff Downes sebagai pemain keyboard. John Kalodener juga mengajak mantan frontman Journey, Robert Fleischman. Saat latihan Fleischman terkagum-kagum dengan suara Wetton dan menganggap Wetton lebih cocok sebagai vokalis. Dua nama yang juga dipertimbangkan masuk Asia adalah pendiri ELO, Roy Wood dan pemain gitar asal Afrika Selatan Trevor Rabin yang kelak bergabung di Yes sekitar 1983.

Debut album Asia dirilis Maret 1982 dan langsung sukses komersil dengan menduduki peringkat satu album chart Amerika Serikat selama sembilan minggu dan terjual 4 juta kopi di AS saja. Single “Only Time Will Tell” dan “Heat of the Moment” masuk top 40. Asia bersaing dengan Boston, Styx dan Journey untuk tampil di panggung pertunjukan berskala arena. Band ini juga masuk nominasi Grammy sebagai artis pendatang baru terbaik. Sementara Billboard memberi gelar album of the year. Kesuksesan Asia juga didukung oleh munculnya stasiun TV khusus musik, MTV.

Perpecahan

Namun kesuksesan itu tidak berlanjut di album kedua Alpha yang dirilis Agustus 1983. Meski bisa duduk di urutan 6 USA Billboard album chart, album ini mendapat kecaman dari kritikus musik. Rolling Stone menyebut Alpha terlalu komersil, sementara yang lain menganggap peran Palmer dan Howe sangat kecil. Howe hanya membuat satu lagu “Lying to Yourself” itu pun cuma jadi B-side.

Kegagalan album ini sudah terlihat sejak awal proses pengerjaannya. Perbedaan visi dan ego pribadi serta tekanan untuk membuat album yang lebih baik menjadi beban bagi semua personil Asia. Konflik makin membesar saat mereka harus tur mempromosikan album ini. Puncaknya ditandai dengan keluarnya John Wetton, padahal tiket pertunjukan di Budokan Hall, Tokyo, Jepang terjual habis. Mantan vokalis dan pemain bas King Crimson dan ELP, Greg Lake langsung mengisi posisi yang ditinggalkan Wetton. Pertunjukan yang diberi tajuk Asia in Asia pada Desember 1983 itu menjadi konser pertama yang disiarkan via satelit oleh MTV. Lake tidak lama di Asia, ia keluar awal 1984 dan Asia kembali reuni dengan Wetton untuk membuat album baru. Tapi sekarang malah Howe yang keluar posisinya diisi gitaris Krokus, Mandy Meyer. Howe kemudian membentuk supergrup lainnya GTR bersama mantan gitaris Genesis, Steve Heckett.

Album ketiga Astra yang dirilis 1985 gagal total dibanding dua album sebelumnya. Jadwal tur yang sudah disusun langsung dibatalkan oleh Geffen secara sepihak. Setahun kemudian Asia resmi bubar. Wetton sibuk rekaman bersama Phil Manzanera, gitaris Roxy Music. Ia juga membuat lagu “Gypsy Soul” untuk soundtrack film Sylvester Stallone Over the Top. Untuk lagu itu Wetton membawa nama Asia, meskipun tinggal ia personil aslinya.

Asia reuni tahun 1990, lagi-lagi masih tanpa Howe. Tiga personil tersisa merekam empat lagu untuk album kompilasi Then & Now dibantu beberapa musisi, salah satunya adalah gitaris Toto, Steve Lukather. Pat Thrall bergabung dengan dengan Downes, Palmer dan Wetton untuk tur Asia di Eropa bersama The Beach Boys. Salah satunya mereka tampil di Lapangan Merah, Rusia November 1990 disaksikan 20 ribu penonton.

“Yang saya ingat dari pertunjukan itu, kami bisa merasakan limousine milik Mikhail Gorbachev dan menunggu selama dua jam untuk bisa makan siang di McDonald,” kenang Palmer.

Sukses di Eropa tidak menjadi jaminan di Amerika Serikat. Setelah merampungkan tur di Amerika Selatan Wetton memutuskan keluar, ia kecewa karena Asia gagal menaklukan AS. Sementara Palmer reuni dengan ELP dan menghasilkan album Black Moon.

Payne Era

Sejak 1991 vokalis/bassist John Payne bergabung dengan Downes mempertahankan nama Asia hingga 2006. Album pertama dengan Payne adalah Aqua. Disini kita masih bisa mendengar permainan Howe dan Palmer di beberapa lagu. Tapi keduanya hanya menjadi bintang tamu karena Howe lebih memilih Yes dan Palmer terikat komitmen dengan ELP. Untuk keperluan tur direkrut mantan personil Alice Cooper dan calon gitaris Megadeth masa depan, Al Pitrelli. Meski turnya lumayan sukses, banyak fans tidak mau mendukung Asia tanpa Wetton.

Masih dengan Al Pitrelli plus pemain drum Mike Sturgis (eks A-ha dan 21 Guns), Asia merilis Aria Mei 1994. Album ini gagal secara komersil, bahkan Asia hanya menjalani empat tur. Menjelang tur posisi pemain gitar beralih lagi ke Aziz Ibrahim (Simply Red). Aria baru beredar di Amerika Serikat setahun kemudian.

Kegagalan Aria tidak melunturkan semangat Downes, Payne, Sturgis, Ibrahim dan gitaris tamu Elliot Randall dari Steely Dan untuk membuat album baru. Selama proses penggarapan Arena mereka rajin mendengarkan album-album tahun 70-an seperti Santana, Supertramp, Steely Dan dan the Eagles. Mereka membayangkan bagaimana jika Asia ada di tahun 1976 bukan 1996. Lagu pembuka “Into the Arena” sangat bernuasa Santana. Kesan ini diperkuat dengan permainan perkusi Luis Jardim. Kehadiran Elliot Randall juga membawa elemen jazz dalam beberapa lagu. Sementara bau Timur Tengah tercium dari kocokan gitar Aziz Ibrahim.

Sayangnya, inovasi yang ditawarkan Asia belum memuaskan penggemarnya. Album ini kembali gagal bahkan tidak ada tur untuk promosi. Satu-satunya penampilan adalah saat Payne, Downes dan Elliot Randall membawakan lagu Never di acara Live in London yang disiarkan Radio Virgin FM bulan April 1996.

Selama lima tahun tidak ada kegiatan dari Asia, sampai akhirnya album ke 7 Aura keluar pada 2001. Personilnya tinggal Downes dan Payne. Posisi gitar diisi para alumni Asia seperti Howe, Elliot Randall, Pat Tharall ditambah Guthrie Govan dan personil Saga, Ian Crichton. Awalnya Asia juga mengundang Adrian Smith, tapi tidak ada tanggapan dari gitaris Iron Maiden itu. Sementara untuk pemain drum, selain masih mengandalkan Sturgis, hadir juga musisi-musisi papan atas Vinnie Colaiuta, Simon Phillips dan drummer AC/DC, Chris Slade.

Lagu-lagu di Aura sebagian besar sangat mellow dengan lirik spiritual. Salah satunya adalah “Ready to go Home” yang cocok dinyanyikan saat pemakaman. Lagu ini aslinya milik 10 CC dan pernah juga dinyanyikan vokalis A-ha, Morten Harket di album Wild Sheed. Tapi ada satu lagu yang menegaskan posisi Asia sebagai band progresif rock, yaitu “Free”. Lagu sepanjang delapan menit ini diwarnai aksi solo Howe, Tharall dan Crichton. Berkat album ini Asia bisa tur untuk pertama kalinya sejak 1994, temasuk di Amerika dimana mereka terakhir tampil tahun 1993. Saya pribadi menilai Aura merupakan salah satu album terbaik band ini selain Asia dan Astra.

Album ke delapan Silent Nation menjadi album pertama yang tidak diawali dengan huruf A. Silent Nation masih diperkuat drumer plontos Chris Slade dan Guthrie Govan yang permainannya disebut-sebut mirip dengan Steve Howe. Pertengahan 2005, Chris Slade mengundurkan diri dan diganti Jay Schellen. Setelah merampungkan tur Eropa dan AS, yang lagi-lagi tidak begitu sukses, Asia kembali masuk studio menggarap album yang diberi judul sementara Architect of Time. Rencananya album ini akan diedarkan 2006. Namun, peristiwa besar membuat album itu batal dirilis.

Reuni

Hubungan Downes-Payne pecah setelah sang pemain keyboard memilih reuni dengan personil asli Asia. Payne menggambarkan kejadian ini “sangat menyakitkan”. Tapi Payne tak mau lama-lama bersedih, bersama Govan dan Schellen, ia membentuk GPS (dari singkatan nama-nama personilnya) ditambah pemain keyboard Ryo Okumoto ( Spock’s Beard). Grup ini menghasilkan satu album Window to the Soul. Sebagian besar materi lagu di album ini sudah direkam bersama Downes dan awalnya akan dimasukkan ke Architect of Time.

Reuni ini sebenarnya sudah diritis sejak 2005 saat Downes dan Wetton merilis album Icon. Tur dunia langsung dirancang sekaligus memeringati 25 tahun dirilisnya album pertama mereka. Pertengahan 2007, Asia masuk studio untuk rekaman. Inilah album pertama mereka sejak Alpha pada 1983. Album Phoenix akhirnya keluar 14 April 2008. Sampul album digarap Roger Dean yang juga membuat cover untuk album-albumnya Yes dan Uriah Heep. Gambar sampul Asia, Astra, Alpha, Aria dan Aura juga dikerjakan pria berusia 66 tahun ini. Album ini diterima dengan baik oleh pasar Amerika, Eropa dan Jepang. Pertama dirilis langsung duduk di urutan 73 Billboard Chart, terakhir mereka masuk chart pada 1985.

Saya pribadi menilai kesuksesan Phoenix lebih karena faktor nostalgia. Lagu-lagunya juga terlalu pop. Saya setuju dengan pendapat seorang kritikus musik Inggris yang mengatakan, “this album makes Air Supply sound metal!” Carl Palmer juga terkesan main aman, tidak ada gebukan dahsyat seperti di lagu “Heat of the Moment”, “Wildest Dreams” dan “Don’t Cry”.

Namun, Asia tetaplah band progresif. Ini dibuktikan dengan dua lagu sepanjang 8 menit “Sleeping Giant/No Way Back/Reprise” dan “Parallel Worlds/Vortex/Deya”. Permainan Steve Howe juga mengingatkan masa-masa bersama Yes khususnya di album Going for the One dan solo pertamanya Beginnings. Sementara vokal Wetton tetap stabil mesti usianya sudah tidak muda lagi dan mengingat kondisi kesehatan sang vokalis yang baru menjalani operasi jantung. Saya memberi 3 bintang untuk album ini.

Dua Asia

Sementara itu, Payne tetap jalan dengan GPSnya. Sampai akhirnya Mei 2007 ia membentuk Asia featuring John Payne (AfJP) dengan menyertakan pemain keyboard Erik Norlander. Nama band ini muncul setelah ada kesepakatan tertulis antara Payne dan empat personil asli Asia. Menanggapi adanya dua Asia ini Steve Howe menegaskan, “there have been other versions of the band, but this original line-up is the one that the public truly embrace.”

Album pertama AfJP adalah rekaman live Asia di Finlandia 2005 dengan line-up Downes, Payne, Govan dan Schellen yang diberi judul Extended Versions di AS, sementara di Inggris judulnya diganti menjadi Scandinavia. Pertengahan 2008 band ini mengeluarkan EP Military Man, royalti yang diperoleh dari penjualan ini disumbangkan ke USO organisasi nirlaba yang peduli dengan kesejahteraan prajurit AS. Sepanjang 2009 AfJP gencar melakukan tur skala festival dan klub-klub kecil membawakan semua lagu Asia termasuk “Heat of the Moment”.

Penghujung 2008 AfJP menandatangani kontrak tiga album dengan perusahaan Sony Music untuk mengedarkan album mereka di Jepang dan Amerika sementara untuk peredaran dunia ditangani Favored Nations, perusahaan yang didirikan gitaris Steve Vai. Album mereka yang diberi judul Arcana akan keluar sekitar bulan November. Album ini akan bersaing dengan Omega milik Asia versi original yang dirilis April lalu.

Line-up AfJP berganti setelah masuknya Mitch Perry menggantikan Govan. Perry sudah 25 tahun berkarir di musik. Ia pernah bekerjasama dengan Aerosmith, Michael Schenker Group, Cher hingga Edgar Winter. Pergantian ini terjadi karena Govan memutuskan tinggal di Essex, Inggris, sementara personil lainnya menetap di LA. Namun Govan tetap terdaftar sebagai gitaris GPS. Rencananya GPS akan mengeluarkan album baru akhir 2010.

Sumber:

– originalasia.com
– theasiaband.com
– mitchperry.com
– wikipedia.org

Komentar
  1. 31 post-rock mengatakan:

    http://31postrock.blogspot.com/
    cobain musik genre postrock
    pasti fly……😆

    (sambil nitip link brad)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s