Mengolah Sampah Jadi Berkah

Posted: Januari 24, 2011 in Me

mengolah kompos

Kota Bandung di Jawa Barat selama ini identik dengan segala hal yang indah-indah. Kota ini punya julukan kota kembang, kota asri, kota bermartabat bahkan disebut-sebut sebagai Paris van Java, konon karena keindahannya mampu menyaingi ibukota Prancis itu.

Namun, seperti kota-kota besar lainnya, Bandung masih direpotkan dengan masalah sampah. Saat ulang tahun Bandung yang ke 200 pada September lalu, Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta sampai perlu mewanti-wanti Pemda untuk memprioritaskan urusan sampah ini.

Jika permasalahan sampah bisa ditangani dengan baik, maka Bandung akan menjadi lebih cantik dari sekarang. Apalagi, Bandung dikenal sebagai Kota Kembang, katanya ketika itu.

Sampah juga membuat pusing Walikota Bandung, Dada Rosada. Apalagi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Sarimukti akan habis ijinnya pada November 2011. Sementara TPA lain di Kabupaten Bandung tidak bisa dipakai lagi.

Bancana longsor di TPA Leuwigajah 2005 silam nampaknya masih membekas di ingatan warga. Mereka yang tinggal di sekitar TPA trauma dengan kejadian itu dan menolak wilayahnya dijadikan tempat pembuangan sampah.

Alhasil, kini tinggal TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat yang masih menampung volume sampah Kota Bandung yang mencapai 2700 m3.

Pemkot kemudian punya ide untuk mengolah sampah menjadi tenaga listrik. Dada Rosada menargetkan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di kawasan Gedebage akan rampung pada 2012. Sementara proses tender pembangunannya dilakukan pada November 2010.

Menurut Dada Rosada, sampah-sampah itu dibakar dengan menggunakan Insinerator. Hasil pembakaran kemudian disalurkan sebagai energi listrik.

“Bagaimana mengolah sampah sehingga keluar gas. Ini bisa lebih cepat dilakukan dengan insinerator. Ini sudah dilakukan di banyak negara-negara maju, termasuk di Singapura yang sudah punya lima pembangkit listrik ini,” papar Dada Rosada.

Rencana ini mendapat penolakan dari Global Alliance for Incinerator Alternatives/Global Anti-Incinerator Alliance (GAIA). Mereka menilai Insinerator adalah teknologi kotor yang tidak ramah lingkungan, membebani ekonomi publik, dan mengancam kesehatan masyarakat serta lingkungan Kota Bandung dan sebagian Kabupaten Bandung.

Ketua Lembaga Penerapan Teknologi Tepat (LPTT) Kota Bandung Rohadji Tri mengatakan, penanganan sampah harusnya mulai dilakukan di tingkat rumah tangga. Sampah bisa diolah menjadi kompos yang lebih bermafaat.

Sampah Jangan Dibuang Keluar Rumah

Sobirin Supardiyono

Langkah inilah yang sudah dilakukan Sobirin Supardiyono, warga yang tinggal di kawasan Cigadung, Bandung. Di rumahnya yang sejuk dan memiliki halaman luas, dia mengolah sampah yang menurutnya jangan dibuang keluar rumah, tapi diproses sendiri menjadi barang yang lebih berguna.

Sobirin mengatakan, setiap rumah pasti menghasilkan sampah. Sampah organik yang jatuh dari pohon dan sisa makanan basi diolah Sobirin menjadi kompos yang ternyata sangat menguntungkan. Yang penting, katanya, jangan takut gagal dalam membuat kompos.

Pada awalnya sang istri kurang mendukung kegiatan ini. Toh sudah ada tukang sampah, begitu istrinya pernah bilang. Komentar ini tidak menyurutkan niat Sobirin untuk mulai mengolah sampah.

“Kita punya visi, yaitu supaya rumah saya bersih. Misinya saya mengolah sampah organik. Sementara skill asal kita mau kita pasti bisa. Saya lihat-saya ingat-saya kerjakan-saya kuasai, kan konsepnya begitu,” kata Sobirin.

Setelah menganut faham zerowaste praktis tidak ada sampah yang dibuang ke luar rumah. Tempat sampah di luar rumah, yang dibuat dari bata yang disemen, tidak dimanfaatkan lagi.

Tetapi ternyata tempat sampah tersebut selalu ada isinya. Sampah-sampah dapur, sampah plastik memenuhi tempat sampah.

“Heran juga, siapa yang ikut-ikutan membuang sampah di tempat saya. Ingin menuduh tetangga, saya tidak enak hati. Akhirnya, pikir punya pikir, tempat sampah saya tersebut saya bongkar saja. Tidak ada lagi tempat sampah di luar rumah saya,” kata Sobirin sambil tertawa.

Lubang Komposter Aneorob

komposter aerob bata

Proses membuat kompos berawal dari lubang yang diberi nama komposter aneorob. Komposter ini berupa lubang yang digali di tanah, ukuran 60 cm x 60 cm, kedalaman 1 m. Tidak disemen, telanjang langsung tanah. Semua sampah organik, daun-daunan, sayur basi, bahkan bangkai tikus bisa dimasukkan ke lobang ini.

“Itu kan microorganisme juga nantinya, bangkai apa pun juga masuk. Itu nggak bau. Ini semacam biopori besar. Seluruh sampah organik apa pun masuk aja. Sayur lodeh yang sudah berlendir masukin aja. Semua sampah ini akan terurai dalam tiga minggu,” papar Sobirin.

Lubang itu kemudian ditutup dengan plat beton. Sampah dalam komposter anaerob lubang tanah ini selalu menyusut, sehingga memungkinkan memasukkan lagi bahan-bahan kompos yang baru, demikan seterusnya.

Dari proses ini sebenarnya sudah bisa menghasilkan kompos, tapi masih ada kompos yang setengah mateng. Nah, untuk yang ini proses selanjutnya bisa dimasukkan ke komposter aerob bata terawang.

“Ini kalau dihitung batanya 140 biji, bata bekas. Dari atas ke bawah bolong langsung ke tanah nggak ada semen. Yang tadi setengah mateng di taro di sini. Untuk mempecepat penguraian ditambah bahan yang namanya MOL,” papar Sobirin.

MOL atau mikro organisme lokal adalah agen percepatan dalam pembuatan kompos. Cara buatnya gampang.

“Untuk tong isi 25 liter, kita siapkan gula 1 kg, bakteri seneng gula. Kemudian air kepala 4 gelas. Setelah itu bisa ditambahkan, kalau mau aroma peuyeum juga bisa, satu kilo. Kita aduk kemudian ditambahkan air. Itu juga sudah jadi. Hanya sekarang saya punya kelinci, air kencingnya saya masukan ke sini,” jelas Sobirin.

MOL ini akan siap pakai dalam lima hari, setelah itu bisa langsung dimasukkan ke komposter aerob, tapi ingat jangan sampai basah kuyup. MOL dimasukkan tiga hari sekali, diaduk biar tidak mengeras. Beberapa hari kemudian komposnya sudah siap panen.

Menularkan Kompos ke Tetangga

Kegiatan yang dilakukan Sobirin, lama kelamaan menular ke tetangga sekitar. Ia kemudian menggagas lomba hasil kebun yang menggunakan kompos olahannya. Kegiatan ini biasanya dilakukan saat 17 Agustus.

“Kalau kita paksa tetangga melakukan apa yang kita lakukan, malah cape sendiri, seperti bertepuk sebelah tangan. Biarlah mereka yang lihat sendiri dan mencontoh,” imbuhnya.

Namun Sobirin belum punya rencana mengkomersilkan pupuk organiknya ini. Pasalnya, dari 12 kilogram sampah organik yang dikumpulkan dalam sebulan, hanya bisa menghasikan tiga hingga empat kilogram kompos. Kalau mau dijual harganya masih sangat murah, katanya. Meski Sobirin mengaku, sekali waktu pernah “memanen” kompos halus hingga 200 kg.

Hasil kebunnya sudah banyak dilirik orang. Mulai dari tanaman stroberi yang buahnya bagus, rasanya asem manis dan baunya wangi khas. Kemudian, tanaman semusim, antara lain sosin dan kol, yang ditanam dalam karung di bulan Oktober 2009, sudah dipanen di awal Januari lalu. Kompos buatannya juga menghasilkan ketela yang beratnya mencapai 25 kilogram!

Belum lagi panen tomat ranti, yang ukurannya kecil-kecil. Warnanya merah seperti tomat biasa, rasanya asam segar. Hasil kebun lainnya adalah cabai yang ditanam di pot dan tanaman rosela.

Green Lifestyle Sejati

Sobirin tidak setengah-setengah menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Di halaman belakang rumahnya, dia membangun kolam kecil penjernih air limbah cuci piring. Awalnya Sobirin memasukkan ikan di kolam itu, namun limbah yang banyak mengandung sabun dan minyak menyebabkan ikan-ikan itu mati. Akhirnya air kolam itu dimanfaatkan untuk tanaman dalam pot, lumayan berhasil.

Di sudut halaman, dekat pagar, juga dibangun tangki untuk menampung air hujan. Air hujan yang dipanen bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, terutama di musim kemarau.

“Saya mempunyai tangki air yang sudah tidak terpakai. Tadinya saya bingung, apakah tangki air bekas ini dijual saja atau diberikan kepada pemulung. Ketika musim hujan tiba, saya mempunyai ide, baiknya dipakai sebagai penampung air hujan,” cerita Sobirin.

Masih belum puas, pria ini juga membuat lubang biopori untuk menampung limpahan air dari jalan yang masuk ke rumahnya. Lengkap, kan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s