Greenlifestyle,Tularkan Gaya Hidup Hijau

Posted: Januari 17, 2011 in Me

Berawal dari obrolan ringan, muncullah ide untuk membuat komunitas Greenlifestyle (GL) sebuah komunitas dunia maya yang diisi orang-orang yang peduli dan rajin menularkan gaya hidup ramah lingkungan.

Komunitas ini dibentuk sekitar 2007. Ketika itu Armely Meiviana bertemu dengan sahabatnya Marc-Antoine Dunais. Pria Prancis yang sudah lama tinggal di Indonesia itu kemudian bertanya tentang milis Indonesia yang mendiskusikan seputar gaya hidup hijau.

“Setahu saya, karena saya ikut di banyak milis dengan berbagai isu, saya belum pernah tahu ada milis semacam itu. Gimana kalau kamu bikin milis, yuk kita bikin milis untuk berbagi informasi dan diskusi soal lingkungan,” kata Mely.

Ngomongin Lingkungan Dengan Bahasa Umum

Mely, yang aktif di berbagai LSM dan ikut di sejumlah milis lingkungan, merasa ada jurang pemisah antara pegiat lingkungan dengan masyarakat umum. Perbedaan itu bisa terlihat dari pengetahuan, bahasan bahkan istilah lingkungan yang mungkin kurang dimengerti masyarakat biasa.

Kata Mely, banyak orang awam yang sebenarnya peduli dengan isu lingkungan, tapi ketika ikut milis-milis lingkungan malah terlalu serius bahasannya dan bikin tambah bingung karena penuh dengan istilah yang tidak mereka pahami.

“Untuk itulah kita bikin konsep dari milis ini supaya tidak sama dengan milis-milis lingkungan yang sudah ada. Jadi targetnya untuk umum. Intinya adalah mempertemukan kelompok yang sudah punya banyak pengetahuan tentang lingkungan dengan kelompok yang belum tahu. Tapi gimana supaya diskusinya dalam bahasa awam yang sederhana dan targetnya yang kita bahas ini adalah sesuatu yang sehari-hari dan bisa diterapkan. Kita tidak mau terjebak dalam omongan soal aturan, Undang Undang dan akhirnya nggak ada tindakan. Jadi tujuannya adalah masing-masing individu bisa berubah dengan informasi yang ada di milis,” tambah Mely.

Mely menjadi adiministrator milis dan mulai mengumpulkan teman-temannya yang ada di jejaring LSM untuk gabung di komunitas ini sekaligus menjadi nara sumber untuk menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan peserta milis.

Dari kumpul-kumpul ini, Mely banyak menemukan kelompok-kelompok yang selama ini dianggap awam ternyata punya pengetahuan keseharian tentang lingkungan, yang selama ini jarang disentuh oleh aktivis lingkungan.

“Banyak masalah yang selama ini kita nggak begitu perhatikan oleh aktivis lingkungan, seperti kalau sampah sudah dipilah lalu dikemain? Kemudian ada yang menanyakan kalau batere berbahaya lalu dibuang kemana? Ketika ngomongin masalah air, ternyata ada yang bisa menghemat air untuk berwudhu. Jadi mempertemukan orang-orang yang punya tips praktis dengan yang membutuhkan.”

Dari pertukaran ini bisa menggerakkan orang untuk berubah, mulai dari diri sendiri dulu sebelum meminta orang lain untuk lebih peduli pada lingkungan sekitar. Makin lama milis ini makin berkembang.

Kemunculan komunitas GL ini juga berbarengan dengan maraknya isu-isu lingkungan. Muncul kebutuhan-kebutuhan untuk mempraktekkan gaya hidup ramah lingkungan yang bisa didapat dengan bergabung di komunitas ini.

Kalau sebelumnya tips ramah lingkungan kebanyakan soal hemat listrik, di komunitas ini Anda bisa menemukan banyak informasi seputar gaya hidup yang selaras dengan alam, seperti bagaimana memilih tempat liburan dan cara traveling yang ramah lingkungan. Bahkan sampai membahas bagaimana beribadah yang tidak menghasilkan sampah.

“Kalau kita lihat pas hari raya entah Idul Fitri atau mungkin hari raya agama lain, entah kemana justru menghasilkan banyak sampah. Harusnya menjadi perhatian untuk semua umat beragama, karena ini tidak sejalan dengan ajaran sebenarnya,” tegas Mely.

Untuk bisa menyimpan semua infomasi yang ada di milis dengan rapih, dibuatlah website sehingga semua tips dan infomasi tidak hilang dan dapat diakses masyarakat di luar komunitas ini.

Mendorong Sikap Kritis Anggota Milis

Setelah banyak anggotanya, komunitas GL mulai kopi darat dengan menggelar berbagai kunjungan ke tempat-tempat yang mempraktekkan cara hidup hijau. Mereka pernah mendatangi tempat daur ulang kertas dan pengolahan sampah menjadi kompos. Tapi kegiatan ini belum bisa dilakukan rutin tiap bulan, karena tenaganya terbatas, kata Mely sambil tertawa.

Yang kini menjadi perhatian GL adalah membangun sikap kritis masyarakat, pasalnya sekarang ini banyak pihak yang menggelar kampanye out door dengan embel-embel ramah lingkungan. Tapi pada prakteknya hanya membagi-bagikan selebaran, tips dan saat penyelengaraannya tidak terlihat bahwa acara ini benar-benar ramah lingkungan.

“Jadi kita merangkul komunitas-komunitas lain untuk bikin sebuah event yang nggak ada embel-embel lingkungannya tapi penyelenggaraannya sebisa mungkin ramah lingkungan. Di acara itu kita benar-benar tidak membolehkan pembagian kantong kresek, makanan yang dibungkus kemasan sekali pakai seperti styrofoam, plastik. Dimana sampah benar-benar sudah dipilah. Jadi kita tidak terjebak pada informasi yang tidak kita lakukan. Mengajak orang melakukan sesuatu yang tidak kita lakukan.”

Milis ini juga punya tujuan untuk menggeser pemintaan pasar kearah produk-produk yang ramah lingkungan. Situs GL juga aktif mengenalkan toko-toko yang membantu masyarakat untuk menerapkan gaya hidup hijau.

“Kita mencoba mengedukasi member bahwa dengan maraknya isu green, bisa sangat mudah digunakan sebagai marketingnya produk-produk yang sebenarnya tidak green. Kita harus mampu menilai sebuah produk atau perusahaan ini sudah green. Supaya kita jangan terkecoh, lihat diiklan obat nyamuk bisa green, apa iya?” tanya Mely.

Mengumpukan Kearifan Lokal

Awalnya milis ini ditujukan untuk warga Jabodetabek, tapi kemudian peserta milis dari kota-kota lain, Bandung, Surabaya dan Yogyakarta tertarik bergabung. Bahkan meluas hingga Jayapura, Kalimantan dan Sumatera.

Anggota-anggota dari kota lain didorong untuk aktif memberikan informasi mengenai kegiatan ramah lingkungan. Cara ini bisa disamakan dengan mengumpulkan kearifan lokal yang selama ini sudah ada di masing-masing daerah.

Banyak hal yang bisa didapat Mely setelah aktif di milis ini. Yang pertama, jelas temannya jadi bertambah banyak. Namun yang terpenting adalah dorongan untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan yang dimulai dari diri sendiri. Mely tidak berani mengajak orang lain melakukan gerakan ramah lingkungan, sebelum mempraktekkannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s