Bandung Tak Lagi Sejuk

Posted: Januari 11, 2011 in Me

Ketika memasuki kota Bandung, Jawa Barat saya langsung melihat tulisan besar “Bandung, The City of Fashion, Dine and Entertainment.” Tulisan ini seolah makin mengukuhkan kota yang (dulunya) sejuk itu sebagai kota plesir favorit warga Jakarta.

Jarak Jakarta-Bandung yang tidak begitu jauh, bisa ditempuh hanya dalam waktu tiga jam dengan menggunakan kendaraan lewat tol Padaleunyi. Alhasil, setiap akhir pekan banyak warga Jakarta yang menyambangi Bandung, berbelanja atau sekedar jalan-jalan.
Saya tak pernah bosan mengunjungi kota yang satu ini. Selalu ada banyak tempat yang bisa disambangi, banyak cerita yang bisa didapat di kota terbesar ketiga di Indonesia, setelah Jakarta dan Surabaya ini.

Kolam Pemandian Jadi Toko Jins

Bagi yang baru pertama ke Bandung wajib hukuman melihat seruas jalan yang namannya Cihampelas. Tempat ini menjadi salah satu ikon Bandung. Di sinilah pusatnya mode dan fashion.

Deretan toko jeans dan kaos bisa ditemui di kiri kanan jalan. Meski barang dagangan yang dijual relatif sama, para pemilik toko punya cara jitu menarik minat pembeli. Mereka menghias tokonya dengan karakter tokoh superhero, karakter-karakter film seperti Terminator, Rambo dan Tarzan, hingga kreasi-kreasi lucu lainnya.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Cihampelas yang termasuk dalam kawasan Bandung Utara dibangun sebagai kawasan pemukiman orang Eropa.

Sedangkan nama Cihampelas yang digunakan sebagai nama kawasan ini, berasal dari nama kolam pemandian “Tjihampelas” yang disebut-sebut sebagai kolam renang pertama di Indonesia. Sayangnya, kolam pemandian Cihampelas kini sudah berubah bentuk menjadi kawasan bisnis.

Pada tahun 1980an, jalan Cihampelas lebih dikenal sebagai sentra pemasaran produk celana jins yang menawarkan harga bersaing. Perkembangan usaha, terutama sejak Factory Outlet (FO) mulai tumbuh di Bandung, membuat kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata kota belanja di kota Bandung.

Seiring meningkatnya pamor Cihampelas, makin banyak pula wisatawan luar kota yang datang untuk membeli atau sekedar cuci mata. Akibatnya kemacetan jadi hal biasa, apalagi jika musim libur tiba. Sabar-sabarlah jika Anda melewati jalan ini.

Perkembangan Cihampelas juga menyebabkan perubahan drastis di kawasan Bandung Utara. Saya menghitung setidaknya ada dua hotel mewah yang dibangun di sini, melengkapi beberapa hotel kelas melati yang sudah ada. Belum lagi mal yang mulai menjamur. Cihampelas makin semrawut.

Kota Factory Outlet

Pusat FO lainnya ada di Jalan Dago dan Riau. Di sini kita kembali disuguhkan dengan aneka rupa pakaian segala merek. Suasana belanja di sini memang lebih nyaman. Yang belanja kebanyakan remaja dan keluarga. Tampilan tokonya agak-agak minimalis dan terkesan modern, tak ada disain lucu seperti di Cihampelas.

Rasanya setiap saya ke Bandung selalu ada FO baru yang berdiri di jalan ini. Pemkot ternyata masih mengijinkan pendirian FO di sepanjang jalan Djuanda (Dago). Meski Pemkot sempat mewacanakan kawasan itu sebagai perumahan.

Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung beralasan, ijin pendirian FO bisa keluar karena hingga kini Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Bandung masih mencantumkan wilayah Dago sebagai kawasan jasa.

Jadi siap-siap saja kemacetan bakal makin parah. Warga sekitar juga terlalu “kreatif” mengubah hunian menjadi tempat usaha. Bangunan tinggi seperti hotel mewah juga mulai muncul. Saya jadi berpikir, bangunan-bangunan baru ini pasti banyak menyedot air tanah. Hal ini memperburuk kondisi air tanah yang sebetulnya sudah tak layak minum karena mengandung zat besi sebanyak tiga miligram per liter.

Bangunan Kuno di Jalan Braga

Sudut kota yang lebih menawarkan keasrian dan rasa adem, menurut saya, adalah Jalan Braga. Saya senang menyusuri kawasan ini mulai dari perempatan Tamblong di dekat Hotel Preanger, memasuki Jalan Asia Afrika, lalu berbelok ke Braga. Sore-sore pastinya, siang mah panas, atuh.

Memasuki Jalan Braga, tidak jauh dari Gedung Merdeka, seperti berwisata ke kota kuno. Kiri kanan jalan bisa ditemui bangunan yang masih mempertahankan ciri khas arsitektur jaman Hindia Belanda. Gedung-gedung yang asik dilihat, misalnya pertokoan Sarinah, Apotik Kimia Farma dan tentunya Gedung Merdeka.

Bandung Heritage menulis, ada beberapa asal usul nama Braga. Ada kalangan yang mengatakan, Braga berasal dari sebuah perkumpulan drama Bangsa Belanda yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1882 oleh Peter Sijthot, seorang Asisten Residen, yang bermarkas di salah satu bangunan di Jalan Braga.

Sementara menurut ahli Sastra Sunda, Baraga adalah nama jalan di tepi sungai sehingga berjalan menyusuri sungai disebut ngabaraga. Sesuai dengan perkembangan Jalan Braga (terletak di tepi Sungai Cikapundung), yang kemudian menjadi tersohor ke seluruh Hindia Belanda. Moga-moga saja tidak ada investor nakal yang punya niat jahat menggusur bangunan bersejarah di kawasan ini, sehingga kita bisa merasakan suasana Bandoeng tempo doeloe.

Penataan Kota Bandung Buruk

Bagaimana masyarakat Bandung menanggapi perubahan kotanya? Sebagian besar warga menilai penataan kotanya masih buruk. Penelitian Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) menemukan, persepsi masyarakat Kota Bandung mengenai tata kotanya di tingkat terbawah dibanding 11 kota besar lainnya di Indonesia, seperti Jakarta, Yogjakarta, Surabaya, Semarang dan Medan.

Sekretaris Jenderal IAP, Bernardus Djonoputro mengatakan masyarakat Kota Bandung menilai tata kotanya bersifat komersial dan menghilangkan ruang-ruang publik.

Menurutnya, pemerintah daerah harus merapikan tata kota Bandung bagi kebutuhan publik, seperti ruang terbuka hijau.

Saya jadi ingat perseteruan, kalo boleh dibilang begitu, antara Pemkot dengan warga Bandung memperebutkan kawasan hutan kota yang tersisa yang ada di Babakan Siliwangi.

Pemkot akan membangun rumah makan mewah di kawasan seluas tiga setengah hektar ini. Letak hutan kota ini memang sangat strategis, dekat area wisata belanja Jalan Cihampelas dan bersebelahan dengan kampus Institut Teknologi Bandung, ITB.

Terakhir saya dengar kabar rencana pembangunan tempat makan ini tetap berlanjut. Jika rencana ini terwujud, bakal hilang satu lagi daerah resapan air di kota ini. Padahal, BPLHD Bandung menyatakan, ada 12 mata air di kawasan ini yang bisa dimanfaatkan warga.

Saat ini ruang terbuka hijau Bandung baru mencapai 8,8 persen, Ini masih sangat jauh dari ideal dimana RTH seharusnya 30 persen dari luas kota yang mencapai lebih dari 16 ribu hektar.

Salah satu taman kota yang sering dikunjungi warga Bandung adalah Taman Cikapayang di jalan Dago yang diresmikan 2006 lalu. Setiap sore taman ini dipenuhi masyarakat segala umur. Yang muda asik main skateboard atau sepeda. Ada juga yang asik ngobrol. Taman ini juga jadi tempat ngumpulnya komunitas-komunitas Bandung. Ciri khas dari taman ini adalah tulisan DAGO yang sangat besar.

Kawasan lain yang digadang-gadang jadi taman kota adalah Alun Alun Bandung, letaknya tau jauh dari Jalan Braga dan berdempetan dengan Masjid Raya Bandung. Anda bisa melihat sekeliling kota Bandung dengan naik ke menara masjid setinggi bangunan 19 lantai. Daerah ini selesai dipugar akhir 2006. Taman ini punya parkir bawah tanah, sehingga sekitar taman bebas dari kendaraan, tapi belum bebas dari pedagang kaki lima. Pemkot berjanji awal Desember kawasan ini sudah bersih dari PKL.

Terakhir saya ke sana, awal Oktober lalu, kondisinya masih gersang, pohon-pohonnya belum tumbuh besar. Banyak fasilitas yang kurang terawat. Bangku taman yang tersedia juga penuh dengan coretan grafiti.

Bandung Tak Lagi Sejuk

Saya pernah kuliah di Bandung, pertengahan 90-an. Saya masih bisa merasakan dingin dan sejuknya kota ini. Tapi sekarang kok makin panas ya? Apakah pembangunan di Paris Van Java ini sudah mengabaikan kelestarian alam?

Bandung memang terkenal dengan industri kreatifnya, tapi kok saya khawatir ada orang-orang yang terlalu “kreatif” membangun tempat bisnis di kawasan taman kota. Ada yang mengubah hunian jadi tempat usaha. Ada juga yang membangun tempat usaha tapi tidak memikirkan lahan parkir. Bahkan, ada yang mengijinkan biro iklan menebang pohon-pohon pinggir jalan.

Saya masih berharap pada janji Dinas Pertamanan Kota Bandung yang akan menanam 200 ribu pohon setiap tahun untuk mengganti pohon yang mati dan memperbanyak ruang terbuka hijau. Sekaligus menurunkan polusi udara dan bikin sejuk kota.

Komentar
  1. MENONE mengatakan:

    naaaaahhhhh silakan maen ke kota batu sob masih adem n sejuuuuuukkkkkk……………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s