Bono: One Life, One Love

Posted: Juli 15, 2010 in music

Paul David Hewson alias Bono adalah vokalis utama band rock asal Irlandia U2. Selama bertahun-tahun dia menjadi suara yang mewakili generasi yang resah atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan para pemimpin dunia. Ini tercermin dari lirik-lirik U2 yang sarat muatan politik dan sosial.

Bono lahir di Dublin, Irlandia 10 Mei 1960. Masa kecilnya dihabiskan di kawasan pinggiran kota Glasnevin. Dia sangat dekat dengan ibunya. Saat berusia 14 tahun Bono harus ditinggal ibunya. Kesedihan Bono masih membekas hingga bertahun-tahun. Beberapa lagu U2 seperti I Will Follow, Lemon dan Tomorrow menceritakan rasa kehilangannya itu.

Seperti kebanyakan remaja Dublin Bono pun bergabung dengan genk lokal “Lypton Village”. Dia berkenalan dengan Guggi dan Gavin Friday yang menjadi teman baiknya hingga sekarang. Gavin lah yang memberikan nama panggilan Bono Vox. Semula Bono menolak, tapi setelah mengetahui nama itu berasal dari bahasa latin Bonavox diterjemahkan menjadi “good voice” dia mau menerimanya. Sejak itulah Paul Hewson dikenal sebagai Bono, bahkan istri dan teman-temannya di U2 memanggilnya dengan nama itu.

Karir Bono di U2 dimulai pada 25 September 1976 saat dia, gitaris David Evans (The Edge) dan pemain bas Adam Clayton menjawab iklan yang dipasang di papan pengumuman sekolah Mount Temple oleh drummer larry Mullen Jr. yang berniat membuat band rock.

Mereka menamakan band itu Feedback, kemudian The Hype dan akhir berubah lagi menjadi U2. Semula Bono bermain gitar dengan The Edge, menyadari temannya itu lebih jago, Bono pun beralih menjadi vokalis. Pada 2006 Bono belajar piano dari guru piano anaknya. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuannya menulis lagu.

Bono menjadi penulis utama lagu-lagu U2 yang kaya dengan tema sosial dan politik. Lagu-lagunya bikin kuping sebagian orang menjadi merah. Bahkan kelompok tentara Republik Irlandia (IRA) mengancam akan menculik Bono. Para pendukung IRA juga menyerang kendaraan yang membawa personil U2.

Album ketiga U2, War yang dirilis pada 1983 penuh dengan aura protes atas kekerasan yang terjadi di Irlandia Utara. Lagu “Sunday Bloody Sunday” menceritakan tragedi penembakan yang dilakukan tentara Inggris yang menyebabkan tewasnya sejumlah aktivis HAM di Derry, Irlandia Utara pada hari Minggu 30 Januari 1972.

U2 juga sering membuat lagu yang dipersembahkan untuk para pejuang HAM. Salah satunya adalah “Pride (In the Name of Love)” dari album The Unforgettable Fire. Lagu tersebut didedikasikan untuk Martin Luther King Jr. Bono menulis lagu ini setelah membaca buku Stephen B. Oates berjudul “Let The Trumpet Sound: A Life of Martin Luther King, Jr.” dan biografi Malcolm X.

Sementara “Walk On” yang ada di album All That You Can’t Leave Behind adalah bentuk dukungan bagi perjuangan Aung San Suu Kyi menghadapi junta militer Burma. Adanya muatan politik di lagu ini membuat pemerintah Burma melarang warga memiliki album atau lagu itu. Mereka yang melanggar akan menghadapi ancaman penjara tiga hingga 20 tahun.

Pada tahun 1986 Bono dan istrinya Ali Hewson mengunjungi El Salvador dan Nikaragua untuk melihat secara langsung dampak perang saudara di El Salvador. Semua yang dilihatnya itu terekam dalam album The Joshua Tree.

Hingga kini U2 sudah mengeluarkan 12 album yang terjual hingga lebih dari 150 juta keping. Mereka memperoleh 22 penghargaan Grammy, masuk musium Rock and Roll Hall of Fema dan majalah Roling Stone menempatkan U2 di urutan ke 22 dalam daftar 100 greatest artists of all time.

Sukses ini tidak membuat Bono kehilangan sisi kemanusiaanya. Status sebagai selebriti dunia dimanfaatkannya untuk membela rakyat kecil. Dia mampu menjalin kerjasama dengan kepala pemerintahan, tokoh agama, LSM, media massa dan pelaku bisnis dunia.

Pertengahan 80-an Bono dan U2 terlibat dalam proyek kemanusiaan Band Aid dan Live Aid yang dikomandoi Bob Geldof. Proyek ini bertujuan menggalang dana untuk masyarakat Ethiopia yang kelaparan. Band Aid adalah kumpulan artis-artis ngetop di tahun 80-an seperti Duran Duran, Spandau Ballet, Wham, Culture Club. Sting hingga Phil Collins dari Genesis. Mereka merekam lagu “Do They Know It’s Christmas?” dan hasil penjualannya disumbangkan kepada rakyat Ethiopia.

Sejak 1999 Bono aktif pada usaha penghapusan utang negara-negara dunia ketiga dan peningkatan kepedulian pada masalah-masalah yang terjadi di Afrika, termasuk penyebaran AIDS di benua itu.

Bono berhasil membujuk Presiden Amerika Serikat George W Bush untuk menggelontorkan dana miliaran dolar bagi negara-negara Afrika di tahun 2002. Disaat yang sama dia mengkritik pemerintah Perdana Menteri Kanada Paul Martin karena lambat meningkatkan bantuan luar negerinya. Atas semua usahanya membela negara-negara miskin Bono masuk nominasi peraih Nobel 2003, 2005 dan 2006.

Pada 2004 dia mendapat mendali kehormatan Pablo Neruda dari pemerintah Chile. Majalah Time memasukkan namanya dalam 100 tokoh paling berpengaruh pada terbitan Mei 2004 dan 2006. Majalah yang sama juga menempatkan pria yang mahir main harmonika ini sebagai Person of The Year 2005 bersama Bill dan Melinda Gates.

Masih ditahun 2005 Bono mendapat penghargaan Order of Liberty dari pemerintah Portugal atas usaha-usaha kemanusiaannya. Pengakuan atas kerja keras Bono juga datang dari pemerintah Inggris yang memberi gelar kesatria Knight Commander of the Order of the British Empire. Gelar ini diberikan dalam sebuah acara di kediaman dubes Inggris untuk Irlandia pada 29 Maret 2007.

Saat menerima penghargaan Philadelphia Liberty Medal di tahun 2007 Bono mengatakan “Saat kamu terjebak dalam kemiskinan, maka kamu bukan manusia yang bebas. Saat undang undang perdagangan melarang kamu menjual hasil bumi yang kamu tanam sendiri, kamu bukan orang bebas.”

Bono juga sempat bertemu dengan Paus Yohanes Paulus II pada April 2005. Pemimpin Katolik itu disebutnya sebagai pejuang sejati yang membela negara-negara miskin. Dikesempatan lain Bono mengajak umat Kristen, Yahudi dan Islam untuk bersama membantu janda, anak yatim piatu serta orang asing yang kelaparan dan kesusahan.

Kesibukannya makin bertambah setelah mendirikan organisasi DATA (Debt, AIDS, Trade, Africa) bersama seorang aktivis sekaligus pengacara asal Amerika Serikat Bobby Shriver. Organisasi bertujuan menghapus kemiskinan dan HIV/AIDS di Afrika.

Bono juga mengajak istrinya Ali Hewson dan perancang busana Irlandia Rogan Gregory mendirikan perusahaan pakaian yang diberi nama EDUN. Perusahaan ini hanya mau bekerja sama dengan pabrik-pabrik di Afrika, Amerika Latin dan India yang sudah menerapkan standar upah yang adil bagi pekerja dan memiliki etika bisnis yang baik sehingga bisa mengundang investor menanamkan modalnya di negara-negara berkembang.

Dia juga terlibat dalam One Campaign dan Product Red yang bertujuan meningkatkan bantuan global untuk memerangi AIDS, tuberkolosis dan Malaria.

Bono sepertinya tidak akan berhenti memperjuangkan keadilan bagi rakyat miskin yang ada di seluruh dunia. Dia terus menyuarakan keberpihakannya pada kaum lemah lewat lagu dan tindakan nyata.

Bono telah membuka mata jutaan penggemarnya di seluruh dunia. Bahwa kita semua bisa melakukan yang terbaik, sekecil apa pun, untuk membantu orang lain yang kekurangan dan membutuhkan. Tidak perlu bergabung dengan LSM internasional supaya sama dengan Bono, peduli dan membantu yang kesusahan rasanya sudah cukup.

“One life..With each other..Sisters and my Brothers. One life..But we’re not the same..We get to Carry each other..” dari lirik lagu One karya U2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s