Surga Wisata Yang Terancam Hilang di Batu Gosok

Posted: Juli 12, 2010 in Me

Saya sedang dalam perjalanan menuju kawasan Batu Gosok, Kelurahan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tengggara Timur. Butuh waktu sekitar satu jam menuju Batu Gosok yang letaknya diketinggian sekitar 18 meter dari permukaan laut (dpl). Dari pusat kota Labuan Bajo perjalanan cukup nyaman karena sudah ada jalan beraspal sepanjang satu kilometer yang lumayan mulus.

Namun memasuki wilayah Binongko, jalannya masih tanah dan berdebu. Perjalanan sangat tidak nyaman karena mobil yang saya tumpangi berguncang hebat. Jalan tanah ini sebagian besar merupakan jalan yang baru dibuka oleh perusahaan pertambangan emas PT.Grand Nusantara. Lebar jalan hanya 3 hingga 5 meter, cuma cukup untuk satu mobil.

Mobil terus menanjak, di kiri kanan jalan hanya ada tebing dan lereng yang curam. Tidak banyak pemandangan yang bisa dilihat, pohon yang ada di pinggir jalan sebagian besar sudah kering karena panasnya cuaca bulan Juli. Selain itu banyak sisa pembakaran lahan yang dilakukan warga sekitar.

Sejauh mata memandang tidak nampak wilayah pertanian atau perkebunan penduduk, hanya ada pohon-pohon lontar liar yang menjulang tinggi. Namun sesekali terlihat di kejauhan birunya laut Flores yang mengelilingi wilayah Labuan Bajo.

Kawasan Batu Gosok, kini mulai digusur untuk kepentingan eksplorasi tambang emas. Padahal, Batu Gosok sebagai bagian dari Labuan Bajo masuk dalam jalur hijau yang diperuntukkan bagi pengembangan pariwisata.

Saat tiba di lokasi Batu Gosok, saya melihat puluhan pekerja tengah melakukan pengeboran sedalam 200 hingga 250 meter untuk mencari kandungan emas yang ada di dalam tanah. Mereka telah membuat 8 hingga 10 lobang. Dua lobang telah ditutup dengan semen karena kandungan emasnya tidak banyak.

Area pertambangan digali membentuk parit-parit. Bukit dibuldoser, dan peralatan berat berdatangan ke lokasi. Dua menara pengeboran juga sudah berdiri.

Aktivitas penambangan di kawasan Batu Gosok terjadi sejak pertengahan Januari lalu. Sejumlah LSM, tokoh agama dan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Anti Tambang (Geram) memprotes keras Kegiatan penambangan ini.

Mereka khawatir limbah dari pertambangan ini bakal merusak kawasan laut Taman Nasional Komodo yang menjadi hunian sekitar 1000 jenis ikan hias dan ikan air dalam, serta memiliki sedikitnya 50 titik lokasi taman laut yang dikenal dengan kawasan rekreasi menyelam.

Sudah tiga kali Geram melakukan aksi unjuk rasa di kantor bupati menuntut pemda mencabut ijin eksplorasi tambang PT Grand Nusantara, namun hasilnya nihil.

Geram menemukan banyak pelanggaran dalam pemberian ijin eksplorasi tambang itu. Ketua Geram, Bernadus Barat Daya mengatakan, Bupati Manggarai Barat Wilfridus Fedilis Pranda telah melanggar peraturan daerah tentang tata ruang yang jelas-jelas menyatakan kawasan Batu Gosok adalah kawasan wisata, bukan untuk pertambangan.

“Itu artinya bupati Manggarai Barat memberikan ijin pertambangan di Batu Gosok sama saja mengangkangi perda no.30 tahun 2005 karena pengalihfungsian dari kawasan pariwisata menjadi tambang…jadi apakah boleh daerah pariwisata menjadi kawasan pertambangan? apakah itu benar?” Tanya Bernadus.

Bernadus Barat Daya menambahkan, bupati Manggarai barat telah mengeluarkan delapan ijin eksplorasi untuk delapan perusahaan. Proses keluarnya ijin tidak melibatkan berbagai pihak, tidak ada konsultasi publik, tidak ada pembicarakan dengan DPRD apalagi kepada masyarakat umum.

Pelanggaran lainnya adalah status tanah yang dijadikan lokasi penambangan. Sekjen Sekretariat Bersama Pemuda dan Masyarakat Manggarai Barat, Ferry Adu mengatakan, pemda tidak pernah melakukan sosialisasi kepada para ketua adat setempat. Ferry membantah klaim dari pemda yang menyatakan tanah di lokasi penambangan adalah tanah negara, karena tidak ada pemiliknya.

Lokasi tambang juga tumpang tindih dengan sarana pendidikan yaitu Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Ruteng dan perusahaan budidaya ikan kerapu, PT Keramba yang telah memiliki patok batas dan Badan Pertanahan Nasional, BPN.

Masalah semakin bertambah, saat pemda Manggarai Barat tidak melakukan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) sebelum memberikan ijin eksplorasi pertambangan kepada PT Grand Nusantara.

Aktivitas eksplorasi ini juga sudah menganggu para pelaku wisata di Labuan Bajo. Pasalnya sekitar 500 meter sebelah selatan lokasi pengeboran ada hotel Batu Gosok.

Pengelola hotel mengeluh banyaknya debu dan suara bising akibat akibat pengeboran dan truk yang lalu-lalang ke wilayah pertambangan.

Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia, Asita manggarai Barat Theodorus Hamun menyatakan, kawasan Taman Nasional Komodo dan wilayah sekitar, seperti Labuan Bajo dan Batu Gosok bakal rusak karena tanah gusuran tambang akan terbawa air masuk ke laut. Akibatnya lokasi-lokasi menyelam yang sering dikunjungi turis asing dipastikan akan hancur.

“Saya khawatir kalau nanti ada hujan turun itu akan sampai ke laut dan itu akan mencuci semua debu-debu itu masuk ke laut dan air laut itu akan keruh dan akan menutupi karang-karang laut ataupun pantai yang begitu indah dengan pasir putih dan disitu memang rekreasi untuk turis dan saya lihat sendiri dan sering snorkling di sana,” kata Theodorus Hamun.

Tiga aksi unjuk rasa masyarakat Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tengggara Timur menolak aktivitas pertambangan emas di kawasan wisata Batu Gosok, tidak membuat Bupati Wilfridus Fedelis Pranda mengubah pendiriannya. Dia menyatakan aksi unjuk rasa ini sama dengan menolak undang undang pertambangan hingga Pancasila.

Bupati Wilfridus Fedelis Pranda menambahkan, lokasi penambangan ini jauhnya 5 mil dari Taman Nasional Komodo. Sehingga limbahnya tidak sampai ke pulau Komodo.

Fedelis Pranda juga menuding masyarakat sekitar salah menafsirkan eksplorasi tambang emas di Batu gosok sebagai eksploitasi. Menurut dia, PT Grand Nusantara melakukan pengeboran untuk mengetahui ada-tidaknya kandungan emas di wilayah itu. Selama proses eksplorasi, tambah Pranda, belum diperlukan adanya amdal.

“Karena kami eksplorasi sekarang ini kami hanya cari tahu saja kalau nanti menuju pada tahap eksploitasi atau operasi produksi, investor buat laporan dulu ke pemerintah, kemudian kedua minta lagi untuk ke eksploitasi..kalau ada kandungan emasnya dia harus minta ijin baru…sebelum ada ijin amdal dulu,” kata bupati.

Soal tanah yang dijadikan lokasi pertambangan, Fedelis Pranda menyatakan pemda sudah melakukan sosialisasi. Menurut dia, tanah di kawasan Batu Gosok adalah tanah kosong tidak bertuan sehingga dinyatakan sebagai tanah negara.

Maraknya aksi unjuk rasa membuat PT Grand Nusantara seperti kebakaran jenggot. Mereka sibuk menepis semua tudingan yang disampaikan Gerakan Masyarakat Anti Tambang. Rudi, staff PT Grand Nusantara berjanji akan secara terbuka mengumumkan kepada masyarakat dan pemerintah daerah semua hasil eksplorasi di kawasan wisata Batu Gosok. Rudi mengeluh aksi unjuk rasa telah menyebabkan proses pengeboran di Batu Gosok terganggu.

PT Grand Nusantara sampai harus mendatangkan ahli geologi Cina, Hao Wan Xiang. Menurut Hao, tidak benar aktivitas pengeboran telah menimbulkan polusi debu seperti yang dikeluhkan pengelola hotel Batu Gosok. Dia juga membantah kegiatan eksplorasi ini bakal merusak obyek wisata di Taman Nasional Komodo.

“Nggak mungkin ada polusi apalagi ada asap seperti sekarang kenyataannya tidak ada, kamu lihat sekarang keadaannya jelas tidak tertutup asap. Katanya pertambangan ini akan membawa dampak pada Taman Nasional Komodo, sama sekali tidak karena pertambangan ini jauh sekali dari pulau Komodo. Mana mungkin mendapat pengaruh yang negatif,” ujar Hao.

Ribut-ribut seputar ijin eksplorasi di kawasan wisata Batu Gosok ini membuat DPRD Manggarai Barat turun tangan. Ketua DPRD Mateus Hamsi menyatakan, anggota dewan sepakat mendesak pemda menghentikan sementara kegiatan tambang emas di Batu Gosok.

Mateus Hamsi menyatakan, keputusan tersebut diambil dalam rapat pleno yang dihadiri 18 dari 25 anggota DPRD. Salah satu alasan dikeluarkan keputusan itu akibat masyarakat resah dan menolak penambangan emas di Batu Gosok.

Ketua DPRD Manggarai Barat, NTT Mateus Hamsi menegaskan jika bupati tidak merespons keputusan ini, maka DPRD akan meneruskan persoalan tambang tersebut ke Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

Pihak yang ngotot mendukung penambangan emas di kawasan wisata Batu Gosok harus berpikir, iming-iming meraih rupiah dengan menambang emas Batu Gosok telah mengorbankan tambang dolar dari pariwisata Komodo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s