Film Bajakan Banyak Ruginya

Posted: Juli 12, 2010 in Film

Saya adalah bekas “pecandu” film-film bajakan. Dulu saya tidak peduli dengan yang namanya hak cipta, hak kekayaan intelektual atau sejenisnya. Saya juga tidak ambil pusing dengan nasib artis, produser, distributor atau siapapun yang terlibat. Saya tidak butuh yang namanya ester eggs, deleted scenes, audio commentary dan sejenisnya karena hanya ingin melihat filmnya saja. Yang penting bisa mendapatkan DVD film-film yang sedang tayang di bioskop.

Hanya dengan enam ribu rupiah saya sudah bisa mendapatkan dvd bajakan. Jauh lebih murah dibanding harus pergi ke bioskop dan mengeluarkan uang hingga 25 ribu rupiah sekali nonton. Sementara kalau beli vcd atau dvd original harganya juga mahal. Satu keping vcd harganya sekitar 49 ribu, dengan uang segitu saya bisa mendapatkan tujuh DVD bajakan.

Tapi cuma segitu saja keuntungan yang bisa saya peroleh dari film bajakan. Saya banyak menemukan film-film baru yang benar-benar diambil dari bioskop. Gambarnya miring-miring, tergantung posisi handycam sang pembajak. Jika ada penonton yang lewat maka gambar berubah menjadi gelap karena kameranya ditutupi takut ketauan. Belum lagi kualitas suara yang terasa jauh karena hanya mengandalkan pengeras suara bioskop. Kasus ini saya temui dalam film Superhero movie. Kasus lainnya adalah gambarmya yang berubah jadi kotak-kotak, ini biasa terjadi jika satu disc diisi lebih dari enam film.

Kalau gambarnya bisa dilihat, terjemahannya yang ancur-ancuran. Saya yakin yang menerjemahkan film itu pasti vocabularynya kurang. Masa “drop the bag” jadi tetesan tas, kan harusnya letakkan atau jatuhkan tasnya. Terjemahan ngawur ini saya temui di film seri Prison Break. Teks bahasa Inggris kadang juga sama parahnya. Saya yang hanya menguasai bahasa Inggris pasif saja bisa mendengar kalau aktornya ngomong “relax and enjoy the show, gentlemen” kok teksnya bisa jadi “peace and enjoy demonstrating it, gentlemen.” Alhasil, saya harus mengeraskan volume TV supaya bisa mendengar dialognya.

Kekesalan saya makin menjadi-jadi ketika filmnya tiba-tiba berhenti. Ini saya alami saat menonton Casino Royale. Lagi seru-serunya si James Bond main poker dengan Le Chiffre, film tidak mau bergerak. Di forward dan skip juga nggak mau. Bahkan sudah saya tinggal ke kamar mandi, filmnya masih saja diam.

Saya juga menemukan film bajakan yang entah kepada tidak terbaca oleh dvd player. Contohnya adalah filmnya Nicole Kidman The Invasion. Waktu pertama ditonton masih bisa, tapi ketika saya ingin menontonnya lagi ada tulisan no disc. Akhirnya saya beli VCD originalnya, maklum penggemar berat Nicole Kidman.

Tapi ada satu kejadian yang benar-benar mengubah pandangan saya terhadap film-film bajakan. Dulu saya sering membeli VCD original di sebuah outlet musik dan film di mall dekat rumah. Begitu seringnya sampai saya kenal dengan mas dan mbak penjaga toko. Beberapa bulan kemudian oulet itu sudah berubah jadi toko sepatu. Maraknya pembajakan membuat omset penjualan terus menurun dan memaksa pemilik untuk menutup beberapa outletnya. Duh, saya merasa telah “membunuh” mata pencaharian si mas dan mbak itu.

Sekarang saya lebih memilih menikmati film-film lama dari koleksi vcd original atau datang ke bioskop untuk melihat film-film baru, meski tidak bisa setiap minggu. Kadang saya juga mendapatkan film bagus dengan harga diskon.

VCD dan DVD original film-film baru juga sekarang lebih cepat tersedia. Sayang, harganya masih terlalu mahal. Makanya saya berharap harga film original bisa ditekan. Tidak perlu kemasan yang mewah dan gimmicks lainnya, karena saya bukanlah kolektor. Saya cuma penikmat film biasa, itu saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s