Apel Malang dan Pemanasan Global

Posted: Juli 12, 2010 in Me

Kota Batu, Malang, Jawa Timur dan apel seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Alkisah, tanaman buah segar ini semula hanya berupa tanaman liar yang hidup di halaman rumah para meneer Belanda. Pada masa itu, warga Belanda yang tinggal di Batu sudah mengkonsumsi buah apel yang khusus didatangkan dari negara lain.

Tanaman apel liar ini berasal dari biji apel yang dibuang begitu saja. Karena bentuk batang pohon yang sebesar jari kelingking, serta buahnya sebesar buah kelereng yang tidak enak dimakan, maka keberadaannya tidak mendapat perhatian yang serius.

Sekitar tahun 1930-an datanglah seorang petani dan petualang asal Belanda, Tuan Kreben ke Malang, membawa benih apel dari kampung halamannya. Dia lah yang pertama kali menanam apel di daerah Nokojajar, Malang. Bukan di Batu atau Kecamatan Poncokusumo, sentra produksi apel Malang saat ini.

“Kemudian karena bisa hidup didatangkanlah tunas dari Afrika Selatan ada yang dari Asia Selatan, India, Australia dan Belanda sendiri, makanya disini varietasnya macam-macam. Ada greeny Smith itu dari Australia, kemudian Rome beauty dari Belanda, terus ada caroline kalau disini disebut Wang Lie,” kata Muhammad Irwan dari Forum Komunikasi Petani Muda Poncokusumo.

Masa keemasan apel di Poncokusumo dan Batu dimulai pada 1970-an. Muhammad Irwan mengatakan, petani yang semula menanam kopi berbondong-bondong beralih menjadi petani apel.

Kenangan indah juga dialami petani Poncokusumo lainnya, Suratmadi. Dulu, sekitar tahun 80-an, biaya perawatan sangat murah. Suratmadi hanya mengeluarkan tiga juta rupiah untuk merawat 200 pohon. Hasil bersih yang diterima diatas 15 juta rupiah. Itu baru hasil sekali panen, sementara para petani bisa memanen dua kali setahun.

Keuntungan yang diberikan buah surga ini juga dirasakan petani apel di kota Batu yang berjarak 15 km sebelah barat Kota Malang. Salah satunya adalah Arpa’i. Berawal dari menjual bibit apel pada pertengahan 60-an, dia kemudian mencoba menanam sendiri bibit-bibit itu. Hasilnya Arpa’i mampu membangun rumah mentereng di tepi jalan Sidomulyo, Batu.

“Petani-petani mungkin juga selain saya ada kesempatan untuk memperluas lahan karena ada keuntungan dari peluang memasarkan apel yang mana pada saat itu produksi luar biasa, jadi punya lahan sedikit saja hasilnya sudah banyak. Biaya costnya masih minim sekali, sebulan sekali disemprot pake pestisida sudah panen apel,” tutur Arpai’i.

Kini, masa kejayaan petani apel Malang sedang goncang. Apel memang masih jadi primadona, tapi untuk mencapai kualitas terbaik sangat sulit. Apel Malang dulu besar-besar, berair dan keras. Tidak terlalu lembek, tidak terlalu manis, rasa asemnya pas.
Sekarang, kembang apel yang tengah mekar bisa tiba-tiba merana. Kalaupun jadi, buahnya kecil. Dulu apel sekilo terdiri dari tiga buah apel. Sekarang, butuh tujuh sampai sepuluh buah apel, hampir tiga kali lipatnya.

Petani apel banyak yang mulai berguguran, mengalami kebangkrutan, sisa-sisa kejayaannya terlihat dari rumah-rumah kokoh, tapi kegairahan ekonominya lesu. Maka jangan heran kalau di Batu banyak kendaraan yang digadaikan, atau kebun apel yang dianggurin karena sudah kehabisan modal, atau bahkan kebunnya dijual.

Penyebabnya: cuaca. Hawa makin panas, sebagai salah satu akibat dari pemanasan global

Kota Malang sempat dijuluki Paris of East Java, karena kondisi alamnya yang indah, iklimnya yang sejuk dan kotanya yang bersih, bagaikan kota “Paris”-nya Jawa Timur. Tapi julukan itu sepertinya akan segera berubah. Malang tidak sedingin dulu.

Kondisi ini juga dirasakan Arpa’i, petani apel di Batu. Pengembangan Batu sebagai wilayah agrowisata pada awal 1990-an justru merusak kealamian wilayah. Suhu makin panas, kata Arpa’i. Di awal 1970an, suhu di Batu bisa mencapai 18-22 derajat Celcius.

Cocok untuk menanam apel. Sekarang, suhunya bisa 30 derajat Celcius. Segerah Jakarta.
Di sisi lain memang jumlah penduduk semakin banyak. Era Modernisasi semakin berkembang dimana populasi kendaraan atau sarana lain yang memakai mesin makin banyak otomatis suhu bumi makin panas, sementara ada penggundulan di hutan,” kata Arpa’i.

Biasanya, tanaman apel mudah ditemui di pinggir jalan. Sekarang, di pinggir jalan hanya ada hotel, vila, restoran dan toko cinderamata. Kalau mau mencari apel, harus naik ke Desa Sumber Brantas, yang letaknya jauh di atas gunung.

Perubahan suhu rupanya juga mengakibatkan terjadinya mutasi gen hama tanaman. Muhammad Irwan dari Forum Komunikasi Petani Muda Poncokusumo mengatakan, hama makin sulit diberantas, sementara penggunaan pestisida yang berlebihan juga mulai merusak tanah. Petani terpaksa membuka lahan di tempat yang lebih tinggi yang suhunya masih ideal untuk apel.

Sementara di Poncokusumo, Perhutani dianggap harus bertanggung jawab atas perubahan suhu setempat. Perhutani lalai menjaga hutan konsesi seluas 3200 hektar, di lereng selatan Gunung Semeru, Malang. Penebangan kayu mengakibatkan suhu di Poncokusumo meningkat drastis.

Kerusakan hutan setahun terakhir di Poncokusumo telah menaikkan suhu lokal menjadi 24-26 derajat Celcius. Padahal tanaman apel yang tersisa di Poncokusumo setelah kerusakan ekosistem tanaman apel di Batu dan Pujon, menuntut suhu harian rata-rata di bawah 20 derajat.

Pemanasan di kecamatan Poncokusumo ini sudah sejak lama diprediksi oleh Wahana lingkungan hidup, Walhi Malang, Jawa Timur. Pengembangan wilayah Poncokusumo sebagai kawasan wisata alternatif setelah kota Batu, justru merusak hutan yang selama ini berfungsi sebagai pengatur iklim di kawasan itu. Purnawan dari Walhi mengatakan, pemerintah kabupaten Malang seharusnya bisa mendesak dinas kehutanan untuk lebih tegas menetapkan larangan pengambilan kayu di hutan produksi Poncokusumo.

Purnawan memprediksi, jika kerusakan lingkungan tidak segera diperbaiki maka petani apel di Poncokusumo, Malang hanya bisa bertahan lima tahun lagi.

“Yah untuk saat ini saja teman-teman petani di Poncokusumo sudah mendapat pukulan yang sangat berat. Apalagi dengan banyak persoalan lain misalnya pupuk yang semakin tinggi, meskipun sekarang mereka sedang berinisiatif untuk mendorong sebagai wilayah dengan pupuk organik…kalau melihat kondisi tutupan yang sudah semakin hilang Pocokusumo dan Malang Raya sudah dalam kondisi kritis, sehingga kalaupun diprediksi lima tahun ke depan pun akan menjadi sesuatu yang berat bagi petani di Poncokusumo.”

Kekhawatiran Purnawan ini sudah terjadi di Kota Batu. Walhi pernah membuat surat terbuka kepada pemkab Malang yang diberi judul unik “Jangan membangun Kota Batu dengan membatukan Batu”, saat itu Walhi melihat upaya pembangunan wisata di Kota Batu hanya dipusatkan pada pembagunan fisik bangunan tanpa memperhatikan keseimbangan lingkungan.

“Ini justru ada kecenderungan bahwa panorama sudah mulai dirusak, misalnya yang ditakutkan pada waktu itu adalah tidak konsistennya terhadap tata ruang bagaimana ada real estate pada kawasan catchmen area…bagaimana ada vila juga rumah mewah yang dibangun justru jadi rumah kedua bagi pemiliknya, dia tidak tinggal di situ..dia hanya pada akhir pekan saja,” tambah Purnawan.

Pemda menganggap pengembangan wisata harus dengan banyak hotel, diskotik dan lapangan golf. Akibatnya tanah untuk menanam apel makin sempit, suhu tambah panas, ujung-ujungnya apel Manalagi yang menjadi ikon kota Batu nyaris punah.

Kondisi ini membuat sebagian petani apel langsung banting setir ke usaha lain seperti produksi tanaman hias atau menanam sayuran, tapi ada yang coba bertahan meski tanpa kepastian, seperti yang dirasakan petani apel, Suratmadi.

“Sekarang gini kalau kita beralih ke pekerjaan lain kita kembali ke nol…lah kalau kembali ke nol ini ada harapan bisa bangkit atau tidak? ini kan kita mau beralih usaha lain yang pikir-pikir jadi ini repot apalagi yang sudah betul-betul seperti saya yang menggeluti tanaman apel untuk beralih ke pekerjaan lain sudah sulit,” keluh Suratman.

Kisah petani apel di Malang, Jawa Timur tidak semanis buah yang dihasilkannya. Makin hari mereka makin merasa gerah karena pemanasan global juga memikirkan nasib kebun apel yang kian merana.

Komentar
  1. timpakul mengatakan:

    mau donk apple….😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s