Kilau Rezeki dari Limbah Kaca

Posted: September 27, 2011 in Me

Jika Anda melihat kaca-kaca bekas dari pecahan piring, gelas atau botol jangan dibuang begitu saja. Mungkin bisa dikreaksikan menjadi aneka macam suvenir, vas bunga dan hiasan untuk pernikahan, seperti yang sudah dilakukan perajin asal Bali I Komang Agus Purnawan.

Pria asal Ubud ini mulai merintis usahanya sejak 2002. Ide mengolah limbah kaca ini muncul setelah dia melihat acara televisi dari Italia dan Jepang yang mengajarkan cara mengolah limbah kaca.

“Awalnya kita cari cara yang paling mudah, misalnya kaca dipres ini kan yang paling mudah prosesnya. Terus kita kembangkan dengan teknik blow. Kalau di luar negeri pakai kaca yang asli, tapi kita coba pakai kaca limbah,” kata Komang.

Menurut Komang, semua jenis kaca tipis dan tebal bisa diolah. Dia mendapat bahan baku dari pemulung atau toko-toko kaca. Dalam sebulan, Komang membutuhkan sekitar lima hingga 10 ton. Dari jumlah itu bisa dihasilkan seribuan karya seni, paling banyak adalah vas bunga dengan aneka motif.

Hasil karya Komang ini sangat unik karena tetap mempertahankan warna asli dari kaca. Namun jika ada yang menginginkan warna tertentu, Komang harus mendatangkan pewarna khusus kaca dari Italia.

Komang menambahkan, pembuatan karyanya ini tidak terlalu sulit. Dia menggunakan oven dengan suhu dua ribu derajat Celcius untuk melelehkan kaca. Setelah bahan baku itu mencair, baru dibentuk dengan ditiup.

“Kita lelehkan selama 24 jam, baru dibentuk dengan ditiup seperti desain yang kita inginkan. Cara ini lebih rumit dari kerajinan tanah liat, karena ada trik-trik khusus yang harus dipelajari,” tambahnya.

Desain produksi nan unik

Setelah mahir, Komang mulai membuka rumah desain yang diberi nama Fokus Desain. Dia mempekerjakan sekitar 30 karyawan. Namun yang khusus bertugas untuk meniup kaca cair hanya empat orang. Kata Komang, mereka ini punya keahlian khusus dan sudah belajar lebih tujuh tahun.

Pesanan pun mulai berdatangan, mulai dari pengelola hotel dan restoran hingga ibu-ibu rumah tangga serta turis luar negeri. Mereka bisa memesan sesuai dengan desain yang diinginkan. “Selama masih memungkinkan dan sesuai dengan teknik yang kami kuasai, pesannya konsumen kami coba penuhi,” janji Komang.

“Yang paling sulit ketika dapat orderan membuat gelas blok yang panjang. Sempat gagal, akhirnya ya diulang lagi pembuatannya. Kita juga pernah dapat pesanan kerajinan berbentuk badan manusia,” kenangnya.

Harga produknya bervariasi mulai dari lima ribu sampai 10 juta rupiah, tergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan desainnya. Dalam sebulan, Komang rata-rata bisa meraup keuntungan hingga 200 juta rupiah per bulan.

“Dari jumlah itu masih dipotong untuk biaya operasional yang sebulannya bisa sampai 100 juta. Pengeluaran paling besar saat proses peniupan kacanya, karena untuk panasnya kita masih pakai elpiji,” tuturnya.

Komang mengaku tidak khawatir menghadapi empat perusahaan yang juga menjalani bisnis serupa di Bali. Kini Komang telah memiliki tujuh toko yang berfungsi untuk memamerkan dan memasarkan karya seninya, salah satunya di Jalan Raya Mas Ubud, Gianyar, Bali.

Komang terus belajar untuk menemukan desain-desain baru agar para pelanggannya tidak bosan. Dia juga berencana membuka tokonya di Jakarta.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s